November 03, 2009

Rooming In dan ASI


Ini pengalaman sewaktu menjenguk sahabat dan istrinya temennya mas yang kebetulan melahirkan di sebuah rumah sakit swasta yang sama di Bekasi.

Sebelum lahiran jauh-jauh hari sahabatku bilang kalo Due Date nya sekitar tanggal 25 September.
Sabtu malem, 12 September tiba-tiba dapet kabar kalo dia dah lahiran.

So, hari minggu pagi jam 9.30 aku sama mas meluncur ke RS. Pas sampe ruangan bayinya lagi ga sama ibunya, alias di ruang bayi. Ga lama setelah aku dateng, mertuanya dan temen satu kantornya sahabat datang berturut-turut.
Mertuanya sahabat nanya : “udah ditetek-in si dede?”, “blom Ma, orang asinya lom keluar, tapi dah dikasih susu botol kok ma suster.”
“susu formula? “ aku langsung nanya antusias. “iya, dikasih B*T Pl*t*n*m”.
Ternyata di RS tersebut sponsor susu formula gencar banget lho.

He???? Aku heran banget….setahu aku bayi itu setelah dilahirkan sampe 3x24 jam, bisa tahan tanpa asi ato pemberian susu formula. Untuk kasus sahabatku, kolostrumnya memang udah keluar, tapi asinya masih belom.

Kalo jenguk istrinya temen mas (3 November kemaren) lain lagi. Begitu dateng sih kamar perawatan pasca persalinannya VIP, tapi yaitu…si bayi ga ada (padahal ruangannya luas lho). Hmm..jadi inget waktu sahabat dirawat kemaren, si baby juga ga dijadikan satu ruangan ma ibunya. Entah dengan alasan apa….
Istri temen mas juga ga keberatan kalo si baby ditaro diruangan khusus bayi dan karena belom keluar asinya, ya terpaksa disusuin botol alias sufor. Keberatan ato tidak diberikan susu formula, menurutku sih itu hak masing-masing Ibu. Tapi buat aku…menyusui dan berada dalam dekapan ibu juga hak bayi.

Ini ada Artikel menarik yang bisa dijadikan pelajaran tentang Rooming-in (rawat gabung) dan tentang Asi yang tidak langsung keluar setelah melahirkan :

Sumber : ASI
Rumah sakit bersalin memberikan susu formula pada seorang bayi di hari2 pertama hidupnya, dengan alasan bahwa “susu ibunya belum keluar”. Meski sekilas tampak sebagai niatan baik dari pihak rumah sakit, sebenarnya tindakan ini tidak benar, bahkan, merupakan promosi terselubung susu formula. Kami prihatin sekali bahwa kerap kali rumah sakit tidak berperan dalam mendidik orangtua dalam pemberian ASI, bahkan dijadikan tangan untuk menjual susu formula.

Cukup banyak kasus demikian, seperti yang bisa dibaca di blog ini dan komentarnya . Bagaimana fakta yang berkaitan dengan mitos “perlu susu formula pada hari-hari pertama melahirkan karena ASI belum keluar”?

Kapan susu mulai keluar?
Belum keluarnya ASI pada hari pertama kelahiran adalah sesuatu yang normal. Hari-hari pertama ditandai dengan keluarnya kolostrum dengan jumlah yang kecil tetapi sangat penting untuk antibodi bayi. ASI resminya baru keluar 2-3 hari sejak melahirkan. Bayi sendiri secara alami akan tahan selama 2-3 hari sejak lahir tanpa ASI. Sayangnya, banyak ibu menjadi keburu pesimis karena susu yang tidak langsung keluar itu. Padahal sebenarnya itu normal.

Apabila ASI belum keluar pada hari pertama kelahiran, apa perlu diberi formula?
Tidak. Belum keluarnya susu di hari-hari pertama sejak melahirkan bukan alasan yang tepat untuk memberikan susu formula. Malah, pemberian botol pada hari pertama sejak lahir bisa mengakibatkan bayi menjadi bingung puting, yang menyebabkan menghisap puting ibunya dengan cara yang salah, dan ini menyebabkan lecet puting dan berbagai masalah menyusui lainnya.

Lantas, kalau memang ASI baru keluar 2-3 hari kemudian, kenapa harus tetap menyusui bayi pada masa sebelum ASI keluar?
Karena dua hal. Pertama, meskipun tidak ada ASI tetapi payudara ibu mengandung kolostrum, yang berisi konsentrasi antibodi yang penting untuk bayi, dan juga membersihkan pencernaan bayi, merangsang keluarnya tinja pertama bayi. Kedua, mekanisme hisapan bayi pada payudara ibu, akan membawa dua keuntungan yaitu: merangsang keluarnya ASI resmi dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan bayi, dan juga untuk merangsang rahim menciut karena hisapan puting merangsang hormon oksitosin.

Karena itu, sebisa mungkin susui bayi anda pada hari-hari pertama melahirkan secepatnya semenjak lahir.

Beberapa faktor penghambat praktek Rawat-Gabung (Rooming-in):
Sumber : Selasi
- Kadang ibu kelelahan.
Membantu ibu beristirahat dengan tenang tanpa gangguan petugas kebersihan, tamu, bahkan prosedur rutin medis. saat proses persalinan sebaiknya mengenali kondisi ibu pada partus lama, penggunaan anestesi atau episiotomi yang tidak tepat, kurangnya zat gizi dan suasana stres berakibat ibu menjadi sangat kelelahan dan tidak nyaman;

- Memindahkan bayi ke ruang perawat untuk perawatan.
Perawatan bayi sebaiknya dilakukan di sisi ibunya atau dengan dihadiri ibunya, karena hal ini akan memberikan keyakinan dan sekaligus kesempatan belajar bagi sang ibu selain memberikan kenyamanan pada bayi yang mengalami kondisi tertekan atau tidak nyaman;

- Bayi yang baru lahir perlu perhatian terus-menerus.
Bayi dapat diobservasi di sisi ibunya sebaik bila disimpan di ruang perawatan. Sang ibu akan menjadi pemerhati yang baik dan bahkan kadang menyadari bila ada perubahan pada bayinya, bahkan lebih dulu ketimbang perawat yang memiliki banyak kesibukan lain. Perhatian penuh adalah tidak mungkin untuk dilakukan di ruang perawatan yang berisi banyak bayi.

- Tidak diperlukan box bayi.
Bayi akan berbagi tempat tidur dengan ibunya. Tidur bersama akan membantu bayi dan ibunya istirahat lebih tenang dan mendapatkan ASI lebih sering. Tempat tidur mungkin perlu diberi penyangga samping, kursi di sampingnya atau diposisikan dengan sisi bayi menempel pada dinding, untuk menjaga resiko bayi terjatuh dari tempat tidur.

- Perawat tidak tahu persis bagaimana mengajari seorang ibu.
Merawat dan memanjakan bayi adalah bagian terpenting menjadi seorang ibu. Membantu ibu belajar merawat bayinya saat malam hari adalah lebih berguna ketimbang membawa bayinya ke ruang perawatan. Memisahkan bayi dan ibu menurunkan kepercayaan diri seorang ibu untuk berperan sebagai ibu bagi bayinya.

- Ibu yang meminta agar bayinya dirawat terpisah dengan dirinya.
Akan lebih baik apabila Rumah Sakit menganjurkan Rawat-Gabung agar ibu dan bayinya dapat manfaat bersamaan. Rumah sakit sebaiknya mendiskusikan alasan mengapa sang ibu ingin bayinya dipisah dan coba selesaikan masalah agar Rawat-Gabung tetap dapat dilaksanakan. juga menjelaskan keuntungan Rawat-Gabung selama perawatan sebelum persalinan.
• Jika pemisahan ibu dan bayinya adalah atas indikasi medis,sebaiknya rumah sakit mencatat alasan ini pada rekaman medis ibu dan bayi. Pemisahan harus dievaluasi setiap saat untuk melihat kemungkinan dilakukannya Rawat-Gabung sesegera mungkin.
• Selama pemisahan, ibu dianjurkan ibu untuk menengok dan menyentuh bayinya bila memungkinkan dan memperkenalkan puting susu pada sang bayi.

Well, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pembelajaran :
1. Tanya dan cari tahu apakah RS yang dituju pro asi eksklusif. Ada lho RS yang waktu senam hamil, gencar ngasih tau apa itu kolostrum dsb, eh pas lahiran tanpa sepengetahuan si ibu, bayinya diberi SUFOR dengan alasan asi si ibu lom keluar.
Waktu adekku melahirkan di RS M*d**s**a, mereka ternyata punya Bank Asi lho (jadi kalo ibu yang asinya lom keluar, si bayi tetap bisa dapet asi). Mereka juga ga sembarangan ngasih asi, karena ada recordnya itu asi siapa (yang memeras asi, jenis kelamin bayi dari ibu yang memeras asi), lama penyimpanan, jumlah dan lainnya.
2. Tetap berusaha menyusui dan biarkan bayi belajar menyusui walaupun asi belom keluar, untuk itu kalo bisa minta bayi dirawat bareng (rooming-in) dan bedding-in sama ibunya setelah proses persalinan.
3. Minta kepada pihak rumah sakit (suster, dokter) untuk tidak memberikan penambahan susu formula selama asi belom keluar. Ada juga RS yang sebelum persalinan memberikan surat pernyataan dan ditandatangani si ibu apakah mau ada tambahan SUFOR ato murni ASI. Kalo memang mo asi, mereka ga berani ngasih SUFOR.
4. Sebaiknya sih sebelum melahirkan dan sesudahnya ikut pelatihan di Klinik Laktasi. Biar asinya lancar.

Info Klinik Laktasi bisa dilihat disini dan disini

BRAVO ASI !!!



Continue reading...

Oktober 27, 2009

Kontrol Selanjutnya


Minggu ke 9
Kontrol ke-2, dilakukan 2 minggu setelah kontrol pertama. Si mas ngasih saran tuk pindah dokter kandungan, karena sesuatu hal dia jadi ga sreg sama dokter nya.

Alternatif pilihan lain adalah ke RS Mitra Keluarga Bekasi Barat dengan rekomendasi dr. Lina dan dr. Lidya. Dua minggu setelah kontrol pertama jatuh tanggal 1 Juli 2009 (usia kehamilan 9 minggu hari 4 hari), kita pilih dr. Lina yang direkomendasiin sama sahabatku, setelah telepon untuk booking nomor, ternyata dr. lina sedang cuti sampe tgl 10 Juli. Akhirnya kita putuskan untuk ke dr. Lidya.

Dr. Lidya ternyata banyak memberi kita wejangan, ini yang disukai mas.

Pemeriksaan dilanjutkan ke USG, alhamdulilah sudah terlihat kantung janin dan detak jantungnya. Panjang dede nya sudah 1,7cm, dan untuk vitaminnya dikasih volavit dan obat anti mual.
Pulang kontrol si mas sumringah, dia ngerasa takjub banget sama apa yang dia liat di layar monitor.
Aku sendiri ngerasa bersyukur, soale takut kalo yang terjadi adalah adanya kantung janin tanpa ada janinnya.
Alhamdulilah, si dede disana baik-baik aja.

Minggu ke 14.
Sebulan setelah tanggal 1 Juli kemaren atawa tanggal 1 agustus (usia kehamilan 14 minggu), balik lagi untuk kontrol ke-3, panjang dede nya sudah 7,4 dengan lingkar kepala 2,8cm. Vitaminnya Vomilat. Berat Badanku sendiri masih di angka 55 kg.

Nah memasuki usia kehamilan 15 minggu ini, baju dan rok yang biasa aku pake dah mulai pada sesek, rasanya begah banget. Pulang kantor akhirnya mampir ke PGC, (ini salah satu tempat yang paling bisa, gampang dan murah untuk berbelanja setelah pulang kantor) beli celana hamil yang pake karet 2 buah, warna coklat dan hitam. Untuk bajunya sementara pake lungsuran baju hamilnya adek. Dirumah udah ada 4 buah baju hamil, jadi ga beli dulu.

Berhubung tanggal 13 Agustus ini si Ayah terjadwal “turun”, jadi punya ide buat jemput Ayah sekalian nengok akung ma uti di Surabaya. Kebetulan kan tanggal 17 nya jatuh pada hari Senin, jadi bakalan bisa libur panjang.
Akhirnya diputuskan untuk naik kereta ke Surabaya (transportasi yang dianggap paling aman dan tidak lebih mahal ato murah). Langkah berikutnya adalah minta ijin ke supervisor. Ini yang bingung, antara berangkat kamis sore (jumat ijin) dan pulang senin pagi ato berangkat jumat sore pulang selasa pagi (selasa ijin). Nentuin ijin ini kan juga nentuin untuk pesen karcis. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya diputuskan berangkat kamis sore.

Jujur aja, pergi keluar kota dengan kehamilan 14 minggu ini tanpa minta saran dokter lho. Bismillah aja wes….

Selama di Surabaya sih lebih banyak dihabiskan dirumah. Tapi untuk makan sih tetep muter-muter alias wisata kuliner (rujak cingur yang murah cuma 5rb per porsi, rawon, bebek, lontong balap + kerang nya yang nyumi di deket kantor pos, dan masih banyak deh.) Sayang ga ada foto-fotonya.
Kalo jalan-jalannya sih paling ke Suramadu dan ke Pasar Atom buat nyari baju hamil, (berhubung baju hamil yang ada semuanya lungsuran, hehehe).

Dan alhamdulilah kembali ke Jakarta dalam keadaan sehat wal afiat.


Minggu ke 18
Kalo kontrol selama ini emang aku jadwalin pas sebulan sekali, kalo kemaren tanggal 1 ya bulan ini juga tanggal 1, mau tanggal 1 nya bukan sabtu ato minggu pun, tetep aja minta ijin ma supervisor buat ijin kontrol ke dokter, dan alhamdulilah selalu dimaklumi, hehehe.

Tanggal 1 September ini usia kehamilanku sudah 18 minggu 3 hari. Vitamin untuk sebulan kedepan dari dokter adalah Cavit D3 dan Pregnacare. Berat badanku sudah naik jadi 57 kg (uma naik 2 kg dari bulan sebelumnya, hiks..) dan berat dedenya 180gram. Posisi placenta sudah diatas, air ketuban banyak. Jenis kelaminnya belum keliatan. Dokter masih ragu-ragu nentuin, tapi katanya kemungkinan besar laki-laki, soale ada titik putih di layar monitor diantara kedua pahanya.


Minggu ke 23
Kontrol kali ini mundur sehari, baru tanggal 2 Oktober kita kontrol. Vitamin yang dikasih dari dokter masih sama dengan bulan lalu. Bulan ini berat badanku naik 1 kg jadi 58 kg. Susah juga ya naikin berat badan? Alhamdulilah si dede naik 3x lipat dari bulan sebelumnya, di minggu ke 23 ini beratnya sudah 550gram.
Dan kalo bulan lalu dokter masih ragu-ragu, bulan ini jenis kelamin si dede keliatan jelas. Pas di USG pas banget dapet diantara pahanya, dan hasilnya monasnya terlihat jelas. Alhamdulilah…buat kita sih apa aja, tapi begitu tau hasilnya adalah cowok, si Ayah jadi antusias, seneng banget wes….

Dari minggu ke 19 sampe minggu minggu ini gerakan si dede udah kerasa banget. Makin hari makin kenceng, apalagi kalo laper, waduh…makin ga karuan. Pokoknya camilannya jangan sampe ketinggalan. Makin tua usia kehamilan kok malah makin laperan ya? Tiap 3 jam harus makan ato kalo ga mesti diisi camilan yang mengenyangkan. Makanya si Ayah selalu ngingetin untuk bikin bekal roti isi sebelum berangkat ke kantor.

Hmm.. ada temen yang ngingetin tuk minum sari kurma, karena bisa naikin BB dan juga mencegah anemia. Sepertinya banyak juga ya yg mesti dikonsumsi ibu hamil. Dari makanan bergizi, sari kurma, CDR, susu, vitamin dari dokter…hihi..trus apalagi?

Yang menunjang kehamilan dan yang terbaik buat kamu sih, insyaAllah akan bunda lakukan nak…

Sehat-sehat ya….
Continue reading...

Oktober 06, 2009

Sepatu & Kaos Kaki, Ayah....I'm so sorry.


Hari ini Ayah dapet panggilan tes di salah satu perusahaan swasta yang cabangnya di Jakarta. Dari malem sih sudah bantuin Ayah nyiapin berkas kelengkapan administrasi yang mesti dibawa. Tapi ternyata ada hal yang aku lewatin dan itu yang membuat aku kepikiran terus sepanjang perjalanan ke kantor.

Setelah mandi pagi, aku minta si Ayah untuk nganter aku ke Tol Bekasi Barat. Hari ini dia ga bisa nganter ke kantorku karena jadwal tesnya jam 10 pagi. Pas udah mo nyampe halte bekasi barat, tiba-tiba dia nanya : "sepatuku dimana ya? kaos kakinya juga dimana ya?"
(harap dimaklumi dengan sangat, karena kami masih numpang ortu dan bukan rumah sendiri pasti Ayah nanya dimana-dimananya. Barang-barang kami yang masih sedikitpun cuma aku yang tau tempat naronya)
"Aduh..aku lupa Yah, nyiapin buat kamu". (merasa bersalah banget)
"Ya udah gpp, kamu kasih tau aja nyimpennya dimana. Nanti kucari sendiri."
"Hmmm...kalo sepatu di rak belakang (aku baru inget kalo sepatunya agak berdebu karena kelamaan ga dimasukin ke box nya), trus kalo kaos kaki di lemari baju ya...(dia pasti bingung, soale biasanya kalo laki-laki nyari sesuatu barang yang ukurannya kecil, mereka kurang jeli. Untuk hal-hal seperti ini biasanya aku udah nyiapin, tapi hari ini lupa..hiks)

saking kepikirannya jam 8.30 tadi kutelp si Ayah.
"Ayah...dimana?"
"masih dirumah.."
"kok belom berangkat?"
"ini masih rapi-rapi"
"tapi ini udah jam setengah sembilan, jangan mepet-mepet. hmm..semua kelengkapan berkas dah beres?"
"iya, bentar lagi juga berangkat. berkas juga udah beres"
"trus sepatu sama kaos kakinya udah ketemu?" (moga tuh sepatu dah bersih dari debu)
" udah, udah aku siapin."
"Ayah.....(dengan suara sedih, asli sedih)."
"Ya..."
"Aku minta maaf ya, ga nyiapin sepatu ma kaos kaki Ayah. Aku janji ga akan ngulangin lagi."
"Iya, gpp..."
"Makasih ya...nanti kalo berangkat hati-hati."
"Iya."

Lega deh dah minta maaf, tapi tetep aja hati ini masih diliputi rasa bersalah. Seharusnya bisa jadi istri yang baik, yang nyiapin keperluan suaminya.
Ibuku yang selalu cerewet untuk hal-hal kayak gini. 2 thumbs up 4 u Mom.ILU
Ibu yang selalu ngingetin tuk buatin minuman hangat kalo pagi-pagi. Entah teh ato susu.
Karena Ayah ga biasa sarapan, Ibu juga yang ngingetin tuk beli camilan kesukaan. Si Ayah paling suka roti sisir ato roti rasa keju.

Musti dan wajib nih, belajar untuk lebih care sama hal-hal kecil yang membuat suami nyaman.
Makasih buat pengertiannya ya Yah, dan aku janji untuk selalu belajar dan mau berubah untuk jadi lebih baik. ILU so much. Muach..
Continue reading...

Cacingan, Kremian ato..???



Ini adalah percakapan yang terjadi antara diriku (M) dan Fitri (F) - 20 thn, teman sesama outsourcing tapi beda bagian - di Masjid Kantor ba’da dzuhur & ceramah harian, sekitar pertengahan ramadhan, kurang lebih usia kehamilanku pada waktu itu 19 minggu.

(F) : “Puasa mbak?” (memulai pembicaraan)
(M) : “Engga, aku orangnya gampang masuk angin. Kemaren sempet nyoba seperti pola makan puasa, nah pas buka ikutan makan juga. Jam 19.30 an apa yang dimakan waktu buka keluar semua. Jadi ga ada asupan apapun. Abis itu ga berani lagi. Dokter, ibu, suami dan keluarga lain menyarankan untuk tidak puasa dulu.”
(F) : “tapi udah ga mual kan? Takut riskan ya? Iya sih ya baru satu bulan.”
(M) : “Alhamdulilah udah lewat mual-mualnya…Hehehe, udah 19 minggu kali…mo masuk 5 bulan.”
(F) : “oooh..udah mo lima bulan ya? Kok ga keliatan?”
(M) : “iya nih dah 3 kali kontrol, berat badanku ga naik-naik, mandek di 55 kg. tapi alhamdulilah BB dedenya sih normal.
(F) “harusnya udah mulai nongol kan? Mungkin Mbak Menik cacingan kali ya? Dicoba aja minum obat cacing.
(M) : Whaaaatttttttt???? (muka gue udah merah) “Seumur-umur gue ga pernah cacingan!! Gue selalu sehat dan tidak pernah terlihat seperti orang cacingan!” (huh…perasaan nyokap gue ngurus gue dari kecil udah bener kok, gue ga pernah terlihat kurus dengan perut besar, amit-amit dah!)
(F) : “Apa itu kali mbak, Mbak Menik kremi-an?” (dengan santainya nanya tanpa rasa bersalah)
(M) : sambil garuk-garuk kepala eh jilbab, mencoba memberi penjelasan (enteng banget ya orang bilang begitu) “Kalo kremi-an sih pernah, waktu kecil dulu kalo kebanyakan makan kelapa, pasti kremi-an dan pa***t gw pasti gatel. Selama hamil ini pa***t gw ga pernah gatel tuh!!!
(F) : “trus kenapa lom keliatan juga ya?”
(M) : “setahu aku ya kondisi ibu hamil maupun janin berbeda tiap-tiap orangnya. Kalo lom keliatan juga, aku ga tau kenapa.”

Phiewh…..aneh-aneh aja tuh anak. Apa hubungannya antara cacingan, kremi-an ma perut gw yang lom nonjol juga????

Nah waktu ngantor lagi seminggu setelah lebaran, dan biasa…setelah ba’da dzuhur di masjid kantor, temen-temen kaget lihat perut gue yang udah keliatan membuncit, waktu itu usia kehamilan 22 minggu. Komen mereka :

Temen-temen (T): “Ih, udah keliatan, tapi kok gede?”
(M) : Whaaaatttt? (dalam hati sambil senyum-senyum garing). “ Gede ya?, masa sih? Kan udah 5 bulan lebih”.

Walah…jadi yang bener itu mesti kayak apa sih perut ibu hamil tiap minggu ato bulannya? Kemaren-kemaren dibilang cacingan, sekarang dibilang kegedean. Hiks..hiks…
Bodo ah…yang penting si dede sehat, panjang dan BB nya bertumbuh sesuai dengan usianya. Makanan /nutrisinya kan tetep  gue jaga, vitaminnya dari dokter dan susu ibu hamil tetep diminum, biar si dede dapat tumbuh, berkembang dan sehat terus. Amin
Continue reading...

Juni 22, 2009

Dokter Kandungan ku



Setelah hasil tes pack menunjukkan positif, mulai deh sibuk nanya-nanya dokter yang bagus, yang mau diajak lama konsultasi, yang mau ngasih penjelasan inni -itu. Kalo dokternya cewek ato cowok sih buat aku ga masalah, cuma si mas minta kalo bisa cewek aja.

Masalah kunjungan ke dokternya disepakati nunggu mas turun. karena banyak urusan yang mesti diselesaikan, akhirnya mas baru bisa sampe Jakarta Jumat pagi, 19 Juni. So..mesti cari-cari dokter yang praktek hari Jumat itu, dan kalo bisa yang praktek sore, biar si mas bisa istirahat dulu.

Sebenernya kalo nunggu mas pulang ke Jakarta sih kelamaan. Sampe saat si mas dateng itu aku sudah telat 3 minggu 4 hari. maunya sih dari telat 2 minggu sudah ke dokter, tapi ada pihak yang menyarankan jangan terlalu capet.
1. Ibuku : dia sudah wanti-wanti " Ga usah buru-buru ke dokternya, nanti  aja kalo udah lebih besar/lebih tua usianya. Kalo sekarang kamu pasti diobok-obok, emang ga sakit?"
Baru nyadar kalo yang dimaksud ibu dengan diobok-obok itu adalah USG transvaginal.
2. Mas : saking penasarannya dia minta aku untuk nunggu dia buat ke dokternya.

Pertimbangan aku untuk segera ke dokter ya karena pengen tau kondisi dan perkembangan janinnya seperti apa dan pengen konsultasi banyak lah..

Dari beberapa dokter yang direkomendasi sama temen-temen, ada 2 pilihan nih, yang pertama dr. Lina (RS. Mitra Keluarga Bekasi Barat) dan dr. Triskawati Indang Dewi (RS. Hermina Bekasi).
pilihan pertama untuk booking tanggal, jatuh ke dr. Lina (Jumat jam 10.00-14.00), tapi karena takutnya si mas sampe Jakarta mepet dan kepentok Jumatan pula, akhirnya dibatalkan. Setelah telp ke RS Hermina, untuk booking dan nanya jadwal, alhamdulilah hari Jumat (18.00-20.00) beliau praktek dan dapet booking no urut 2. Untuk jadwal praktek dr di RS Hermina, bisa dilihat disini.

Jam 5.30 berangkat dari rumah, daftar dulu, ngukur tensi terus sholat maghrib. Abis shalat, nunggu di ruang tunggu, dan ga lama no urut 1 dipanggil. Ga sampe 10 menit, giliranku deh. deg-deg an juga. Dokter nya nanya " ada keluhan apa?" aku jawab "mo periksa dok, saya sudah telat 3 minggu".
Langsung dipersilahkan ke tempat periksa. Aku pikir di USG transvaginal, ternyata di USG abdominal. Alhamdulilah sudah ada kantung janinnya (besarnya 2,1 cm), kata dokter aku sudah dipastikan hamil, tapi ternyata lom ada detak jantungnya. Huh...sempet khawatir. 
Dokter Indang nyaranin untuk periksa kembali 2 minggu lagi. Aku tanya apakah memang selalu belom terlihat detak jantungnya? Dokter jawab, bisa jadi karena usia janin yang masih kecil, selain itu juga bisa karena keterbatasan alat.
Aku dikasih folat dan obat anti mual. Karena sudah keburu down karena hasil USG nya menunjukkan lom terlihat detak jantung, aku dan mas jadi blank, ga inget semua pertanyaan yang mau kita ajukan.

Mungkin kalo di USG transvaginal bisa lebih jelas terlihat kali ya?
Yah apapun hasil USG itu...aku berusaha untuk tetap optimis untuk 2 minggu ke depan. Perasaan ibu ternyata juga berpengaruh terhadap perkembangan janin. Yang bisa kulakukan adalah banyak berdoa, dan berusaha yang terbaik untuk janinku.
Semoga ketika periksa lagi, detak jantungnya sudah terlihat.
Continue reading...
 

LittLe PriNCeSS's sToRy Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice